Alam Mengajari Kita Memberi

6 Maret 2023, 12:00 WIB

SAMBIL rekreasi dan jalan-jalan, seorang bapak memberi nasihat kepada anaknya yang sedang tumbuh remaja.

Bahwa hidup bukan sekedar memenuhi kebutuhan diri sendiri, tetapi juga harus mau berbagi dengan sesama di sekitarnya.

“Nak, mari kita jalan-jalan ke danau,” ajak bapaknya. Di tepi danau mereka duduk di bawah pohon yang rindang.

“Coba kamu lemparkan batu kerikil itu ke permukaan danau,” perintah sang bapak. Anak itu menuruti dan melemparkan batunya. “Apa kamu lihat?”

“Ada lingkaran gelombang yang menuju ke tepian sini,” jawab anaknya.

“Begitulah hukum alam,” sahut bapaknya.

“Apa yang kita berikan kepada orang lain akan kembali mengarah kepada kita.”

Di lain waktu, bapak itu mengajak anaknya pergi hutan wisata di sebuah gunung. Di situ ada lembah yang dipisahkan oleh jurang. Bapak itu menyuruh anaknya berteriak dengan keras.

“Halo…,” suara anak itu keras. Dari ujung jurang sana muncul suara yang sama, “halo…”

Entah siapa yang menirukan, kita tidak tahu siapa dia.

“Itulah hukum gema Nak,” kata bapaknya. “Apa yang kita katakan akan terpantul dan kembali kepada kita lagi.”

Bapak itu mengajari anaknya tentang memberi. Kalau kita memberi, kita juga akan diberi. Kalau kita mengasihi, kita juga akan dikasihi.

Sebaliknya kalau kita berlaku jahat kepada orang lain, maka kita pun juga akan menuai kejahatan.

“Semakin besar batu yang kita lempar ke danau, semakin besar juga gelombang yang kembali menuju kita. Semakin lantang suara yang kita pantulkan, maka akan besar juga terdengar kembalinya. Demikianlah Nak, kalau kita banyak memberi, maka akan banyak pula kita menerimanya.”

Hari ini Yesus mengajarkan hukum tebar tuai kepada para murid-Nya. Dia berkata, “Ampunilah, maka kamu akan diampuni. Berilah, dan kamu akan diberi.”

Semangat ini didasarkan pada kemurahan hati Allah. Yesus menunjukkan Bapa yang murah hati, hendaknya para murid pun juga belajar murah hati.

Sebaliknya kalau kita suka menghakimi, maka kita pun akan dihakimi. Jika kita suka menghukum orang, suatu saat nanti kita juga akan dihukum orang.

Kita akan menuai apa yang sebelumnya kita tebarkan. Benih kebaikan yang ditebarkan, suatu saat pasti akan berbuah, dan kita akan memanen benih-benih itu.

Kita punya banyak benih-benih kebaikan yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Itulah benih yang mestinya kita tebarkan kepada orang lain.

Karena kita telah diberi dengan cuma-cuma oleh Tuhan, maka mari kita bagikan dengan gratis juga.

Di atas meja banyak makanan,
Hanya bakso yang menarik hati.
Lebih baik menanam kebaikan,
Keberuntungan akan mengikuti.

Cawas, sebagaimana Bapa murah hati…

RD A Joko Purwanto Pr

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber : sesawi.net

Artikel Terkait