Arjuna Meratapi Gugurnya Abimanyu

2 April 2024, 08:20 WIB

Puncta 02.04.24
KETIKA mendengar Abimanyu gugur di medan pertempuran, seluruh Pandawa meratap sedih. Terlebih Arjuna sebagai ayahnya, ia tumbang kehabisan daya kekuatan.

Abimanyu adalah calon pewaris tahta Pandawa. Ia diidam-idamkan memerintah di Amarta dan Astina setelah Baratayuda.

Kematiannya sungguh mengerikan. Dia dikepung oleh ribuan prajurit Astina dan dihujani ribuan panah. Tubuhnya penuh dengan panah menancap seperti seekor landak yang meregangkan bulunya yang tajam.

Arjuna diliputi kesedihan dan keputus-asaan. Ia pergi “nglambrang” tak tentu arah. Dunia terasa gelap dan tanpa masa depan.

Perjuangannya selama ini hanya demi kebahagiaan anak-anaknya. Tetapi dengan kematian Abimanyu, kini semuanya musnah, sia-sia, tiada gunanya lagi.

Kesedihan ditinggal orang yang dicintai dan mencintainya juga dialami oleh Maria Magdalena. Kesedihannya bertambah ketika dia ingin merawat jenasah-Nya, makam itu kosong.

Maria hanya bisa menangis dalam keputusasaan. Habis sudah harapannya. Dunia terasa gelap segelap hatinya yang kehilangan Tuhannya.

Hati dan pikiran gelap akan diikuti oleh tindakan yang keliru. Ia mengira orang yang ada di situ sebagai penjaga makam. Ia menduga orang itu yang mengambil jenasah Tuhannya. Pikiran yang salah akan diikuti oleh tindakan yang salah juga.

Baru setelah Yesus menyapa dengan memanggil namanya, “Maria,” ia langsung mengenal suara Tuhan. Sapaan khas, istimewa, dan personal itu adalah sapaan khusus dari Tuhan. Ia tersadar dan berseru, “Rabuni.” Ia melihat Tuhan yang hidup.

Kegembiraannya meluap dan ia ingin menumpahkan sukacitanya dengan memegang kaki Yesus. Namun Yesus berpesan agar peristiwa ini disampaikan kepada murid-murid-Nya yang lain.

Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”

Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

Seperti Maria Magdalena yang penuh sukacita mengabarkan kebangkitan, kita pun diajak mewartakan sukacita karena dicintai Tuhan. Semoga hidup kita penuh sukacita karena Tuhan bersama kita.

Kamidi orang terkaya di Indonesia,
Dia dihubungi mereka yang jualan.
Kematian bukan akhir dari segalanya,
Ada hidup bahagia bersama Tuhan.

Cawas, selalu ada harapan….
Alexander Joko Purwanto Pr

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber : sesawi.net

Artikel Terkait