BSI Jadi Bank Terbesar ke-6 dan Market Leader Industri Keuangan Syariah di Indonesia

24 Februari 2023, 08:42 WIB

JAKARTA,LOKAWARTA.COM-Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatatkan kinerja ciamik di 2022. BSI menjadi bank terbesar ke-6 di Indonesia dengan melewati CIMB Niaga.

“Kita bisa lihat dari laba bersih BSI yang mencapai Rp 4,26 triliun atau tumbuh 40,68 persen secara year on year (yoy) di akhir 2022,” ujar Menteri BUMN Erick Thohir di Jakarta, Selasa (21/2/2023).

Pertumbuhan BSI merupakan buah kerja keras dari transformasi perusahaan yang berdampak besar pada aspek efisiensi. Erick menyebut merger yang dilakukan pada dua tahun lalu membuahkan hasil positif.

Per kuartal IV 2022, total aset BSI tumbuh 15 persen menjadi Rp 306 triliun. Pun dengan dana pihak ketiga (DPK) yang naik 12 persen (yoy) menjadi Rp 261,49 triliun. Sementara pembiayaan BSI tumbuh 21 persen (yoy) menjadi Rp 208 triliun.

Rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) Gross turun dari 2,93 persen menjadi 2,42 persen per Desember 2022. Dan NPF net susut 0,87 persen menjadi 0,57 persen. Sedang pencadangan yang digambarkan NPF Coverage naik dari 148,87 persen menjadi 183,12 persen.

“Dengan capaian ini, BSI berhasil naik satu peringkat menjadi bank nomor enam terbesar di Indonesia,” ucap Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) itu.

Direktur Utama BSI Hery Gunardi menambahkan, memasuki usia dua tahun BSI telah menjadi market leader dalam industri keuangan syariah di Indonesia. Baik dari sisi jaringan, customer based, capital untuk dapat melayani umat dan nasabah.

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di Indonesia, ucap Hery, BSI terus mengoptimalkan potensi pengembangan Islamic Ecosystem dalam negeri. Mulai dari peningkatan literasi keuangan syariah, menyasar ekosistem Ziswaf, masjid, pendidikan, kesehatan dan industri manufaktur lainnya.

“Alhamdulillah, di tahun kedua sejak berdirinya BSI mampu mencetak laba impresif,” kata Hery Gunardi.

Pencapaian tersebut, lanjut dia, membuktikan strategic response BSI yang tepat untuk meraih pertumbuhan bisnis yang sehat, penghimpunan dana masyarakat, menjaga sustainability pertumbuhan yang fokus pada aspek likuiditas terutama pertumbuhan dana murah, serta menjaga kualitas aset.(*)

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber :

Artikel Terkait