Buah Semangka Berdaun Sirih

23 Juni 2022, 23:10 WIB

Puncta 22.06.22

SALAH satu bait dalam lirik lagu Aku Begini, Engkau Begitu karangan Rinto Harahap berbunyi begini :

Di dalam tidur, di dalam doa kita berjanji.
Kita bersama, kita bersatu bergandeng tangan.

Di alam nyata, apa yang terjadi,
buah semangka berdaun sirih.
Aku begini, engkau begitu sama saja.

Apa yang dikatakan Rinto jelas terdengar mengada-ada dan lucu. Mana ada buah semangka berdaun sirih. Jelas tidak mungkin terjadi.

Begitulah masalah cinta yang rumit didendangkan oleh Broery Pesolima.

Kalimat buah semangka berdaun sirih adalah sebuah satire yang mau mengatakan bahwa perbedaan karakter tidak mungkin disatukan.

Tidak akan ada buah semangka berdaun sirih.

Yesus pun mengingatkan kepada para murid-Nya, bahwa tidak mungkin orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri.

Yesus memberi gambaran bahwa setiap pohon baik akan menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik pula.

Tidak mungkin semak duri mengeluarkan buah anggur. Tak akan terjadi rumput alang-alang menghasilkan buah duren.

Dari buahnyalah orang akan mengenal pohonnya. Anggur yang baik pastilah berasal dari pohon yang baik juga.

Apel yang manis juga berasal dari pohon apel yang baik.

Dengan cara itu kita bisa menilai nabi-nabi, pengajar atau tokoh seorang pemimpin.

Seorang tokoh yang baik akan kelihatan dari buah-buah yang dihasilkannya.

Jika seorang pemimpin, entah pemimpin agama, politik atau organisasi masyarakat mengajarkan kebaikan, kita bisa melihat buah-buah yang dihasilkan adalah kebaikan.

Tetapi jika ia mengajarkan kebencian, permusuhan, perpecahan, perselisihan, maka buah-buah yang dihasilkan adalah kehancuran, saling curiga, tidak rukun dan saling membenci.

Dari buah-buahnya kita bisa melihat dan menilai pohonnya.

Kita masih bisa merasakan sampai sekarang pahitnya buah permusuhan yang dihasilkan dari orang-orang atau kelompok yang menanam pohon yang bernama politik identitas.

Demi nafsu kekuasaan dan kekayaan, orang menanam politik identitas.

Buahnya adalah hancurnya persatuan dan persaudaraan, sesama warga saling membenci dan bermusuhan.

Rakyat kecil menderita. Kaum elite menikmati hasilnya.

Berhati-hatilah. Yesus sudah mengingatkan,“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.”

Jadilah warga yang cerdas menjelang 2024 ini agar bisa menilai mana domba yang sesungguhnya dan mana serigala yang berbulu domba.

Telitilah buah-buahnya, maka anda akan mengenali apa dan bagaimana pohonnya.

Melakukan perjalanan ke Puliau Kalimantan,
Menyeberang perbatasan sampai ke Tebedu.
Mau pilih kemakmuran atau kehancuran?
Pilihlah nabi yang sejati, tolak saja nabi palsu.

Caeng, buah semangka berdaun salak…

RD A Joko Purwanto Pr.

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber : sesawi.net

Artikel Terkait