Cendawan Kuning…

18 Januari 2024, 05:43 WIB

“Asap kuning bunga cendawan membelah angkasa…”

BEGITU Yockie Suryoprayogo menggambarkan kedahsyatan letusan bom atom dalam lagu Cendawan Kuning. Setelah bom meletus, asap membumbung membelah angkasa, seperti cendawan kuning.

Setidaknya itu terlihat dalam video klip yang beredar. Dalam lagu yang dirilis 1989 itu, Yockie juga menggambarkan dampak dari letusan bom atom itu. Tengok saja lirik selanjutnya.

“Aku mati, engkau mati, semua akan mati. Lumpur-lumpur, bagaikan lava panas semakin tinggi.” “Cacing tanah, menggelepar, dengan kulit terbakar. Tulang-tulang, yang berserakan nyawa-nyawa melayang.”

Jadi, dampak bom atom itu tidak hanya meluluhlantahkan gedung dan infrastruktur tapi juga membunuh ribuan manusia, dalam radius tertentu, tapi juga memusnahkan ekosistem yang ada.

Gambaran nyata dari dampak kedahsyatan bom atom itu ketika dua kota di Jepang, yakni Herosima dan Nagasaki dibom atom oleh Amerika Serikat pada perang dunia kedua tahun 1945. Atau saat Bagdath, ibu kota Irak dibombardir AS saat Perang Teluk 1991.

Namun dalam perjalanan waktu, di era modern seperti sekarang ini, untuk menaklukkan sebuah negara tak perlu bermain-main bom atom lagi, tapi cukup menguasai ekonominya dan menciptakan ketergantungan. Dengan penguasaan ekonomi dan adanya ketergantungan itulah, sebuah negara akan mudah distir, didikte, atau mau diapakan.

Nah, inilah yang namanya penjajahan baru, yang kini banyak dilakukan negara maju pada negara berkembang. Dalam dua bait terakhir di lagu tersebut, Yockie Suryoprayogo menekankan.

“Itu semua ulah manusia, yang gila kuasa. Selalu berlomba mencapai tujuannya, menjajah dunia. O, peradaban ini musna tiada bekas, hilang tanpa bekas.”

Lagu Cendawan Kuning di album Raksasa 1989 menandai formasi baru group musik Godbless. Masuknya gitaris Eet Syahrani menggantikan Ian Antono yang keluar dan membentuk group sendiri, Gong 2000.

Tiga personil lainnya, yakni Acmad Albar (vocal), Donny Fattah (drum), dan Yockie Suryoprayogo (keyboard) bertahan. Dengan masuknya Eet, Godbless terlihat lebih garang, lagu-lagunya makin cadas, iramanya makin cepat, dan warnanya lebih thrash.

Tengok saja lagu-lagu seperti Raksasa, Menjilat Matahari, Cendawan Kuning, dan Maret 1989. Namun formasi itu tidak bertahan lama. Ian Antono, pendiri Godbless kembali masuk menggantikan Eet yang keluar dan mendirikan group sendiri EdanE, bersama Eky Lamoh. (*)

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber :

Artikel Terkait