Cinta dan Derita Drupadi

13 Mei 2023, 10:54 WIB

KETIKA para Pandawa harus mengawali masa pembuangan di hutan selama dua belas tahun, Kresna bertanya kepada Drupadi, isteri Puntadewa; “Seberapa besarkah cinta sang Dewi kepada suami yang sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi dan hidup sebagai orang buangan?”

Drupadi menjawab, “Cintaku kepada suami semakin bertambah kilaunya, karena aku mencintainya bukan karena harta, tahta atau kemuliaan dunia, tetapi karena pribadinya yang luhur, berbudi bawa leksana.”

“Kendati harus hidup terlunta-lunta di hutan belantara, aku akan mengiringi kemana pun paduka pergi,” kata Drupadi kepada Puntadewa.

Cintanya kepada suami justru makin bersinar di saat suami mengalami kehinaan paling dalam.

Puntadewa dan adik-adiknya melangkah dengan gontai memasuki masa pembuangan yang berat di tengah hutan “gung liwang liwung.”

Drupadi, isteri yang setia mengikuti suaminya dalam suka dan duka.

Yesus mengingatkan kepada murid-murid-Nya akan resiko berat yang harus ditanggung mereka, karena mereka menjadi pengikut-Nya. “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku.”

Sebagai isteri Puntadewa, Drupadi ikut mengalami penderitaan lahir batin. Ia dipermalukan di depan umum oleh Sengkuni dan para Kurawa yang mabuk kemenangan.

Kain penutup tubuhnya disingkapkan oleh Duryudana sehingga nampak pahanya yang putih mulus.

Bima marah melihat kebiadaban Kurawa dan bersumpah, “Besuk perang Baratayuda, tidak akan puas hatiku jika tidak meremukkan pahanya Duryudana.”

Dursasana yang menggelegak nafsu birahinya, berusaha melepaskan kain sari Drupadi. Namun ajaib, kain itu tidak ada putus-putusnya walau ditarik terus menerus sampai Dursasana kehabisan tenaga.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu.”

Drupadi diperlakukan tidak senonoh, dihina, direndahkan, dianiaya dan dipermalukan di depan umum, karena dia istri Pandawa yang tertua.

Dia dibenci oleh para Kurawa dan digolongkan sebagai bagian dari Pandawa.

Kita harus siap menanggung resiko sebagai murid Kristus. Kita akan digolongkan sebagai pengikut Kristus. Dunia membenci Kristus, dunia juga akan membenci kita.

Segala kesukaran dan derita, aniaya dan penolakan akan ditimpakan kepada kita.

Sudah siapkah anda menanggung derita karena menjadi murid-murid Kristus?

Yesus sudah mewanti-wanti kita, “Semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.”

Mendapat oleh-oleh jenang Kudus,
Digigit sangat terasa manisnya.
Jika kita menjadi murid Kristus,
Harus siap memanggul duka derita.

Cawas, siap menjadi murid-Nya…

Puncta 13.05.23
Alexander Joko Purwanto Pr

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber :

Artikel Terkait