Kaji Kedelai Lokal Indonesia, Dokter Jonathan : Nasibnya Memprihatinkan, Produk Berkualitas Tapi Permintaan Turun

7 Juli 2023, 13:56 WIB

SOLO,LOKAWARTA.COM-Kedelai lokal Indonesia mendapat sorotan dari dokter Jonathan, ilmuwan yang memiliki kajian di bidang pertanian yang berfokus pada teknologi pangan dan gizi khususnya kedelai.

Ilmuwan dari Inggris itu merasa prihatin atas kedelai lokal Indonesia, dimana kualitas yang dihasilkan bagus namun secara permintaan dan daya jual menurun.

Menurut dia, kedelai lokal Indonesia sebenarnya bisa menjadi produk unggulan dengan harga jual mumpuni sehingga perekonomian petani kedelai juga meningkat dan tidak kalah dengan kedelai import.

Hal itu dikatakan dalam diskusi dan penjajakan kerja sama yang dilakukan Universitas Tunas Pembangunan / UTP Surakarta di kampus setempat, Kamis (6/7/2023). Kedatangan dokter Jonathan di UTP adalah untuk yang ketiga kali.

“Saya sudah melakukan penelitian, mengkaji juga, bahwa kedelai lokal (kedelai dari Indonesia) lebih bagus dari pada kedelai import,” kata dokter Jonathan.

“Sangat disayangkan kedelai yang biasanya digunakan sebagai bahan utama untuk membuat tempe yang makanan asli dari Indonesia malah import dari luar,” ungkap Jonathan.

IMG 20230707 135122

Jonathan menceritakan pengalaman dirinya saat datang ke Karanganyar untuk membantu para petani kedelai lokal di kabupaten tersebut dan respon yang diberikan cukup bagus.

Akan tetapi inisiatif petani lokal saja masih kurang memang harus ada pihak-pihak yang membantu para kelompok tani untuk mengatasi permasalahan ini.

“Sebenernya saat di Karanganyar ada potensi bahwa kedelai lokal yang ditanam dari petani disana sudah baik,” kata konsultan kesehatan gizi dan pengolahan makanan di Indonesia itu.

“Lalu tinggal bagaimana pihak-pihak seperti kampus, pejabat dan pemerintah yang memiliki ahli dibidangnya ikut membantu para kelompok tani kedelai ini agar mereka tidak kalah saing dengan kedelai import,” tambah Jonathan.

Sementara itu dalam sambutannya, Rektor UTP Prof Dr Winarti mengutarakan, masalah kedelai di Indonesia tidak hanya masalah dalam bidang pertanian saja melainkan masalah sosial politik atau bahkan ekonomi politik.

Menurut dia, petani sangat tergantung dengan kebijakan pemerintah, namun sayangnya kebijakan ini tidak ada dukungan dari pemerintah.

Karena itu, UTP sebagai sebuah institusi pendidikan yang memiliki fakultas pertanian, tentu berharap dapat memberikan solusi atas permasalahan tersebut.

Dikatakan, isu kedelai ini sebenernya sudah lama dan tidak ada dukungan dari pemerintah karena ada kepentingan kepentingan lain. Semua tahu, siapa yang dirugikan dan siapa yang diuntungkan dalam bisnis tersebut.Kondisi ini memang sangat disayangkan.

“Tindakan pemerintah juga masih nihil dan sebaiknya juga harus ditelusuri. Meski begitu menurut saya ya kita sebagai lembaga harus bisa mendampingi kelompok tani khususnya para petani kedelai,” kata Rektor UTP.

“Cara kita berpartisipasi tentu dengan melakukan pengabdian masyarakat, kita bisa mengajak dosen dan mahasiswa untuk terlibat dan melakukan pembinaan kepada petani kedelai”, kata Prof Dr Winarti dalam sambutannya.

Wakil Rektor 1 UTP Suswadi menambahkan, krisis kedelai terjadi 3 tahun sekali dan itu merupakan hal yang normal. Bahkan Suswadi juga mengatakan, bisnis tempe sangat menguntungkan jika tau bagaimana cara melakukan dan pengelolaan dengan tepat.

“Daerah-daerah potensial yang ada di sekitar Solo ini banyak seperti Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, Wonogiri. Terakhir saya juga sempat kesana untuk meninjau daerah tersebut masih mengembangkan kedelai lokal, ada 2 varietas kedelai yaitu grobogan dan willis”, papar Suswadi.

Jonathan berharap kunjungannya di UTP tidak hanya sebagai wacana saja untuk membantu para petani kedelai lokal. UTP khususnya, Fakultas Pertanian benar-benar mampu merealisasikan dan siap membantu mensejahterakan para petani kedelai lokal agar dalam proses pembuatan produk makanan tidak menggunakan kedelai import melainkan produk lokal.(*)

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber :

Artikel Terkait