Lelaki Tua di Kota Praha

4 November 2023, 08:39 WIB

LELAKI tua itu memperkenal dirinya, Wahjoe Soehardono. Usianya sekitar 70an tahun. Masih sangat sehat. Wajahnya berwibawa, kulit putih bersih dengan rambut peraknya tercukur rapi. Memakai sweater hitam. Dibaliknya terlihat baju merah membungkus tubuhnya yang kurus. Sorot kedua matanya tajam, menembus kacamata tebal berbingkai hitam yang bertengger di atas hidungnya.

Pertemuan itu terjadi beberapa tahun silam. Saat itu, aku menghadiri konferensi di Praha yang membahas tema perang saudara, genocida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Begitu tahu dari Indonesia, lelaki berusia senja itu menghampiri. Tanganku dijabat erat saat mengenalkan dirinya.

Matanya berbinar dan bicara dengan penuh semangat saat mengundangku makan siang. ”Nak Krisna, tidak banyak kesempatan bertemu dengan anak muda Indonesia yang peduli pada isu kemanusiaan. Jika ada waktu ngobrol, ada banyak hal yang ingin saya ceritakan.” ujarnya.

“Dengan senang hati Om, saya juga sudah tidak ada agenda,” jawabku. Aku putuskan menerima tawaran tersebut sekalian makan siang di Old Town Square. Selain acara konferensi sudah selesai, aku juga ingin mengenal Praha dari perspektif orang yang sudah lama hidup di kota itu.

Dari lokasi konferensi ke Old Town Square, kami naik trem sembari menikmati pemandangan di kanan-kiri jalan. Usia trem itu relatif tua namun masih nyaman dinaiki dan terpelihara dengan baik. Trem berjalan pelan, membuat setiap penumpang punya kesempatan menikmatinya.

Kota ini sangat menarik. Sayangnya banyak petunjuk jalan atau papan informasi ditulis dalam bahasa setempat. Aku tidak paham satu huruf pun dalam Bahasa Ceko. Membuatku seperti orang buta. Sebagian petunjuk jalan, ditulis dalam dua bahasa. Satunya berbahasa Inggris. Namun tidak banyak jumlahnya. 

Praha dijuluki kota seribu menara. Julukan itu sangat beralasan. Sepanjang perjalanan kulihat banyak gedung megah dengan bangunan menara di bagian sisi-sisinya. Ibaratnya, kemanapun kita menengokkan kepala dan melemparkan pandangan mata, pasti akan melihat menara.

Kulihat banyak bangunan bergaya gothic dan baroque. Arsitektur Gothic memiliki karakter yang khas, yaitu lengkungan runcing atau pointed arch di interior bangunan. Disisi eksterior, bentuk atapnya melengkung. Biasanya dilengkapi menara dengan ujung meruncing. Ornamen patung menghiasai fasad bangunan. Jendelanya bergaya rose windows. Sesuai namanya, bentuknya seperti bunga mawar.

Sedangkan gaya Baroque memiliki karakter kuat terlihat pada pilar-pilar bangunan besar dan kokoh. Bentuk dindingnya cekung dan cembung serta atap berbentuk kubah. Tata cahaya yang dihasilkan dari arsitektur ini sangat indah.

Bangunan-bangunan kuno itu sangat terawat. Semakin menambah cantik wajah kota. Satu hal lagi yang membuat indah adalah tidak terlihat banyak billboard di jalan dan bangunan, seperti jamaknya di kota-kota di Indonesia. Rata-rata penuh dengan papan reklame atau baliho.

Entah iklan produk komersial atau wajah para politisi yang mencoba menarik dukungan publik. Mungkin dalam benak mereka, poster-poster itu menjadi daya tarik buat pemilih. Padahal menurutku, justru terkesan genit dan menyiksa mata. Ah, tapi ya sudahlah, setidaknya mereka memberi rejeki pada tukang pembuat poster dan baliho.

Dari tempat pemberhentian trem, kami berjalan kaki beberapa meter ke area Old Town Square. Sebuah café yang tidak terlalu ramai pengunjung, menjadi pilihan. Aku memesan chlebicek, semacam sandwich dan secangkir kopi. Sementara Om Wahjoe hanya ingin telor setengah matang dan secangkir kopi.

Seakan ingin menjawab pertanyaanku, Om Wahjoe mengawali cerita dengan kilas balik masa lalunya. Terlahir dari keluarga berpendidikan dan terkemuka. Ayahnya dikenal sebagai tokoh partai politik beraliran “kiri”. Istilah itu dikenal dalam diskursus politik Indonesia sebagai ideologi dan aliran pemikiran yang berhulu pada pemikiran Karl Marx. 

Hanya saja, orang cenderung melekatkan atau mengasosiasikan kiri dengan komunisme. Padahal tidak bisa disederhanakan seperti itu. Spektrum ideologi kiri sangat luas. Diantara sesama aliran kiri kadang juga saling bertetangan satu sama lain. Namun bagi orang yang tidak paham, semua itu disamaratakan sebagai komunisme.

Ideologi kiri menarik perhatian banyak aktivis pergerakan, baik semasa era perjuangan kemerdekaan maupun dalam masa kekuasaan Bung Karno. Apalagi bagi anak-anak muda yang punya daya lenting perjuangan yang kuat, idealisme dan semangat tinggi. Bagi mereka, ideologi kiri dianggap mampu merepresentasikan keberpihakan pada rakyat dan menjadi jalan terang mengentaskan kemiskinan. 

Panggilan jiwa sebagai sebagai aktivis menurun pada Om Wahjoe. Saat mahasiswa, ia menjadi pimpinan sebuah organisasi mahasiswa ekstra kampus yang dikenal sangat progresif revolusioner. Selepas kuliah, Om Wahjoe menjadi dosen di salah satu kampus swasta ternama di Jakarta.

Lelaki itu juga aktif menulis dan bergiat di salah satu organisasi pendidikan dan kebudayaan. Keaktifan, jejaring dan dan kiprahnya di dunia pendidikan dan kebudayaan, menghantarkannya memperoleh beasiswa ke Moskow, Rusia pada tahun 1964.

Saat itu, kehidupan, karir dan masa depannya terlihat sangat cerah. “Namun, itu bagai ilusi sesaat. Peristiwa G30S/1965 telah memporak-porandakan semuanya,” ujarnya lirih. Kulihat sorot matanya kosong, menatap jauh.

Dalam pandangan Om Wahjoe, peristiwa itu adalah tragedi dan menyisakan trauma panjang. Tidak hanya bagi dirinya, namun juga bagi banyak orang. Apalagi selepas jatuhnya kekuasaan Soekarno, rezim yang berkuasa, kemudian membuat segregasi dengan istilah orde. Soekarno dan kekuasannnya dianggap sebagai orde lama yang menyimpang dari Pancasila sedangkan rezim yang baru mentahbiskan dirinya sebagai orde baru dan berkehendak mengoreksi orde lama.

Om gak bisa pulang ke tanah air?” tanyaku. “Ya, waktu itu bimbang, antara pulang dengan segala resikonya. Atau bertahan di negeri orang dengan konsekuesi yang tak kalah pahit. Waktu itu dapat kabar dari Indonesia. Terjadi pembersihan terhadap orang-orang komunis atau dituduh komunis. Gerakan itu juga menyasar para pendukung Bung Karno yang dianggap kekiri-kirian,” ungkapnya.

Kata Om Wahjoe, selepas G30S/1965, banyak anak-anak muda dan pejabat pemerintah yang tidak bisa pulang ke tanah air. Ada diantara mereka yang sedang menempuh pendidikan atau ditugaskan di luar negeri, khususnya di negara-negara komunis. Bagi yang pulang, banyak pula yang ditangkap aparat saat menginjakkan kaki ke tanah airnya sendiri.

Dengan nada getir, Om Wahjoe bercerita tentang keluarganya yang berantakan. Ayahnya beserta anggota keluarga lainya yang menetap di Jakarta hilang tak tentu rimbanya. Istri yang baru dinikahinya juga tidak ada kabar. Entah hilang, ditahan atau terbunuh, tidak ada kejelasan tengan hal tersebut.

Ia pun menjadi stateless saat passportnya dicabut. Beasiswa juga dihentikan. Akhirnya, kerja serabutan dilakukan untuk menyambung hidup. Kehidupannya jatuh ke titik nadir. Lelaki tua itu sempat berpindah-pindah ke beberapa negara. Pada akhirnya, Cekoslovakia menjadi tempat berlabuh. Bahkan kemudian mendapatkan kewarganegaraan.

“Om anggota PKI?” tanyaku. Lelaki tua itu menghela napas berat sebelum menjawab. “Om tidak pernah tercatat sebagai anggota PKI. Tapi Om ini pengagum Bung Karno. Boleh dibilang Soekarnois. Namun hal itu tak diindahkan rezim Orba.” Jelasnya.

Ya, dari literatur yang aku baca, pada awal kekuasaannya, rezim Orba mengonsolidasikan kekuasaanya secara sistematis. Golongan komunis dinarasikan sebagai musuh utama. PKI menjadi target utama pembersihan. Pulau Buru menjadi tempat buangan para tahanan politik dan narapidana (tapol/napol) PKI.

Elemen-elemen masyarakat dikonsolidasikan ke dalam satu wadah yang direstui negara. Jumlah partai politik dibatasi. Partai-partai yang ada, dipaksa melebur hingga tersisa dua partai politik dan golongan karya. Depolitisasi dilakukan hingga tingkat basis massa. Stabilitas politik dan pembangunan adalah mantra!

**

“Hi Dad, lain kali bilang dong kalau ada agenda lain, aku cari kemana-mana,” tiba-tiba muncul gadis muda dengan suara lantangnya, memecah keheningan. Usianya mungkin sekitar 17an. Parasnya cantik, berkulit putih bersih dengan rambut hitam panjang dikuncir belakang. Kosa katanya sangat terbatas. Namun tetap berusaha keras bicara dalam Bahasa Indonesia.

Tatiana Hedviga Soehardono, namanya. Anak satu-satunya Om Wahjoe, yang kemudian menikah dengan perempuan setempat. Gadis itulah menjadi penyemangat hidupnya. Apalagi setelah istrinya meninggal selepas melahirkan Tatiana. Kehadiran gadis itu pula yang meluluhkan kebencian, amarah dan rasa luka lainnya pada rezim Orba.

“Tatiana, ayo ajak Krisna keliling kota,” kata Om Wahjoe sembari bangkit tempat duduknya. Sore itu cuaca cerah. Saat itu summer. Cuaca cukup bersahabat, khususnya bagi orang yang terbiasa hidup di daerah tropis. Siang berjalan lebih lama. Matahari baru tenggelam jam 9 malam.

“Coba lihat Krisna, Praha sudah berubah jauh dari era komunisme. Tak banyak yang dapat dilihat dari sisa-sisa rezim komunis. Sekarang ini, kehidupan di sini, tidak ada bedanya dengan kota-kota lainnya di Eropa Barat,” kata Om Wahjoe.

Ada benarnya juga perkataan itu. Kulihat beragam mobil mewah berlalu lalang. Pusat belanja dengan gerai barang mewah juga banyak. Restoran-restoran mahal juga mudah ditemukan, termasuk casino dan hiburan malam. Semua itu tidak akan ditemukan pada era komunisme.

“Tapi perubahan selalu menampilkan dua sisi. Disatu sisi ada kemajuan yang membawa kenyamanan, namun ada juga yang tidak beruntung,” kata Tatiana sambil menunjuk para pengemis dan pengamen. Mereka mudah ditemukan di hampir sudut kota dan lokasi wisata. Aku mengangguk, mengiyakan ucapan gadis yang beranjak dewasa tersebut.

Namun satu hal yang tidak berubah meski situasi lainnya mengalami perubahan. Itu adalah tempat-tempat yang indah dan bersejarah. Beberapa hari di Praha, Tatiana dan Om Wahjoe membawaku ke tempat-tempat cantik. Aku diajak ke Charles Bridge, Wallenstein Palace dan Prague Castle. Ah, semua tempat itu sangat menarik, begitu indah dan terawat. 

Keindahan semakin sempurna dengan kehadiran Tatiana. Gadis itu seakan punya energi ekstra. Tidak lelah menjelaskan setiap aspek bangunan dan lokasi yang dikunjungi. Hari beranjak sore. Namun, Om Wahjoe masih ingin mengajakku ke satu tempat lagi. “Kau mesti lihat tempat satu ini,” katanya.

Ternyata tempat yang dituju adalah Museum Komunisme. Tak seperti yang kubayangkan. Museum ini sangat kecil. Hanya terdiri dari 5 ruangan dengan luas masing-masing sekitar 3x4m². Menempati bangunan tua peninggalan abad 18. Terhimpit diantara restoran cepat saji Amerika dan sebuah casino, dua hal yang di”haram”kan komunisme.

Aku tidak memperoleh banyak informasi di museum itu. Kulihat beberapa contoh pamflet dan poster propaganda pada era komunisme. Ada juga patung Karl Marx dan Vladimir Lenin terletak disatu sudut ruangan dalam posisi berdiri, diapit Bendera Uni Soviet.

Di bagian lain dari museum itu kulihat contoh ruang interogasi, ruang sekolah dan model alat produksi pertanian saat rezim komunis berkuasa di Cekoslovakia. Foto-foto peristiwa perubahan sosial politik tertempel di dinding. Di satu sudut ruang yang lain, terdapat satu TV tua memutar film dokumenter Revolusi Beludru. Salah satu peristiwa politik yang mengubah Cekoslovakia. Sungguh memprihatinkan untuk sebuah museum bagi satu ideologi yang pernah mengguncangkan dunia.

“Di Indonesia ada museum seperti ini, Krisna?” tanya Tatiana. Mendengar pertanyaan itu, aku jadi teringat Museum Pancasila Sakti. Museum itu juga dikenal dengan nama Museum Lubang Buaya. Namanya saja sudah menunjukkan kesan seram.

Dulu semasa sekolah dasar, mendengar nama itu lantas membayangkan suatu tempat yang menjadi sarang buaya. Ah, ternyata nama museum itu tidak ada kaitannya dengan sarang binatang reptile itu. Lubang Buaya adalah nama desa tempat museum itu berlokasi. Entah desa itu dulu terkait dengan keberadaan buaya atau tidak, aku tidak tahu. Namun yang pasti, dimasa lalu, lokasi ini menjadi tempat pelatihan sukarelawan “Komando Ganyang Malaysia” dan juga tempat penculikan dan pembunuhan para pahlawan revolusi.

Meski sama-sama bertema komunisme, namun impresi awal saat masuk ke kedua museum itu berbeda. Secara infrastruktur, Museum Lubang Buaya jauh lebih megah dan lebih luas dengan area sekitar 14,6 hektar. Sedangkan Museum Komunisme di Praha sangat sempit. Mengoptimalkan satu bangunan tua. Impresi lainnya, tidak ada kesan seram saat masuk ke Museum Komunisme sebagaimana kudapat saat mengunjungi Lubang Buaya.

Di museum itu, aku menghabiskan waktu cukup lama. Memperhatikan setiap detail informasi yang terpajang. Video dokumenter Revolusi Beludru juga tidak kulewatkan. Om Wahjoe dan Tatiana membiarkan diriku tenggelam dalam kesendirian pikiran. Mereka menemani tanpa sepatah kata terucap.

Sesaat setelah keluar dari museum, Om Wahjoe berkata, “Mungkin kita harus belajar dari rakyat Ceko dalam menyikapi perubahan,” katanya. Ia menuturkan beragam pergolakan membuat rakyatnya dewasa dalam merespon perubahan. Masa pahit pendudukan Nazi-Jerman, kebebabasan terbelenggu semasa dibawah kekuasaan rezim komunis, hingga invasi militer Uni Soviet. Meletusnya Revolusi Beludru pada 1989 dan lain sebagainya, merupakan gemblengan bagi rakyat Cekoslovakia.

Mungkin karena gemblengan itulah, pada saaat terjadi pemisahan antara Ceko dan Slovakia menjadi dua negara berbeda dan masing-masing berdaulat, proses tersebut dapat berlangsung secara damai. Peristiwa itu dikenal sebagai Dissolution pada tahun 1991.

“Rakyat Ceko tidak menjadikan peristiwa kelam sebagai alat diskriminasi. Fase kelam masa lalu tidak diungkit-ungkit, untuk kepentingan politik sesaat. Semua fokus menatap masa depan,” jelas Om Wahjoe.


“Krisna, tahun depan Tatiana ingin ke Indonesia, mengunjungi negara tempat ayahnya dilahirkan,” kata Om Wahjoe. Tatiana pun menimpali, “Iya, Krisna. Maukah kamu menemani selama di Indonesia?” tanya Tatiana dengan kemanjaannya. 

Aku tersenyum. Kulihat wajah Om Wahjoe sesaat dan kemudian kutatap wajah Tatiana. Gadis itu menunggu responku dengan penuh harap, “Iya, Om, pasti saya temani Tatiana,” jawabku tegas, tanpa keraguan sedikitpun.

Hari itu waktu cepat berlalu. Tak terasa menjelang tengah malam. Aku pun berpamitan. Memori pertemuan tadi sangat membekas. Menunggu satu tahun akan terasa sangat berat dan lama. (Ichwan Arifin, World Traveler)

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber :

Artikel Terkait