Manunggaling Kawula Gusti

22 Maret 2024, 16:50 WIB

Puncta 22.3.25
PRIBADI Syekh Siti Jenar merupakan tokoh Sufi di tanah Jawa pada abad ke-16 yang dianggap menyimpang dan kontroversial bagi beberapa kalangan mainstream pada saat itu. Ajarannya dipandang tidak sejalan dengan ajaran para wali kala itu.

Salah satu ajaran atau pemikirannya tentang Tuhan termaktub dalam konsep “manunggaling kawula Gusti.” Ajaran ini menerangkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Dalam ajaran tersebut, manusia dipandang sebagai manifestasi Tuhan.

Dalam persidangan dengan para wali, Syekh Siti Jenar berkata, “Jika Anda menanyakan di mana rumah Tuhan, jawabnya tidaklah sulit. Allah berada pada zat yang tempatnya tidak jauh, yaitu bersemayam di dalam tubuh (manusia itu sendiri),” lanjut Syekh Siti Jenar.

Menjawab berbagai tuduhan, Syekh Siti Jenar tetap bertahan dengan keyakinannya. “Tak usah kebanyakan teori semu, sesungguhnya ingsun (saya) inilah Allah. Nyata Ingsun Yang Sejati,” balasnya (R. Tanaja, Suluk Walisanga, 1954:54).

Dengan ajaran ini, mereka menganggap bahwa Syekh Siti Jenar menyamakan dirinya dengan Allah. Pendirian inilah yang menyebabkan Syekh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati.

Jauh sebelumnya, pada awal masehi, orang-orang Yahudi berdebat dengan Yesus dan berusaha melempari-Nya dengan batu karena hal yang sama.

Mereka mengemukakan alasannya, “Bukan karena suatu perbuatan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah, dan karena Engkau menyamakan Diri-Mu dengan Allah, meskipun Engkau hanya seorang manusia.”

Yesus juga mengutip Taurat mereka, yang menulis, “Aku telah berfirman: Kamu adalah Allah.” Kitab Taurat adalah Kitab yang diyakini oleh kaum Yahudi. Namun mereka tetap tidak mau menerima penjelasan Yesus.

Sebagian dari mereka ada yang percaya dan mengakui apa yang telah dinubuatkan oleh Yohanes Pembaptis tentang Yesus ini.

Mereka berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini benar.”

Ketika pikiran kita sudah tertutup oleh sebuah konsep, kita tidak mau lagi menerima pandangan atau pemikiran baru.

Hati yang beku dan tertutup membuat kita tidak mampu melihat kebenaran secara obyektif. Pikiran yang keliru berakibat sebuah tindakan yang fatal.

Marilah kita membuka hati agar dapat mencerna sebuah kebenaran dengan pikiran yang jernih dan terbuka.

Berjemur di pantai menantang matahari,
Ikut-ikutan turis mancanegara hanya berbikini.
Jangan menutup diri dan mengunci hati,
Banyak ilmu kehidupan yang tidak kita pahami.

Cawas, siap membuka hati
Alexander Joko Purwanto Pr

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber : sesawi.net

Artikel Terkait