Menghitung Angka Inflasi Kabupaten atau Kota Ternyata Lebih Sulit dari Inflasi Provinsi, Ini Penjelasannya

16 Februari 2023, 06:51 WIB

SOLO,LOKAWARTA.COM-Bank Indonesia (BI) Solo menggelar bincang-bincang dengan wartawan yang selama ini liputan di desk ekonomi, khususnya kegiatan bank sentral.

Selain berbincang soal inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan ketahanan pangan, dalam kesempatan itu Kepala BI Solo Nugroho Joko Prasetyo juga mempetkenalkan deputy kepala BI Solo yang baru. Hadir pula deputy kepala BI Solo lainnya.

Nugroho Joko Prasetyo mengatakan, menghitung proyeksi pertumbuhan ekonomi di kota/kabupaten lebih sulit dibanding proyeksi tingkat provinsi. Karena untuk level kota/kabupaten adalah angka tahunan dan tidak memiliki realisasi sebelumnya.

“Makanya kita gunakan indikator yang bisa kita baca,” kata Joko menjawab pertanyaan wartawan.

Menurut dia, ada empat indikator sektor penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada 2021 yang dihitung BI Solo sebagai indikator pertumbuhan ekonomi.

Yakni sektor konstruksi dengan angka share tertinggi sebesar 24,28 persen. Sektor perdagangan sebesar 22,7 persen. Sektor informasi dan komunikasi sebesar 19,2 persen. Dan Sektor industri pengolahan sebesar 7,6 persen.

Dari empat sektor utama penyumbang PDRB Solo tersebut bisa dilihat pergerakannya di 2022. Untuk Sektor konstruksi, tumbuh lebih baik ketimbang 2021.

Misalnya, Masjid Sheikh Zayed, selain itu ada pembangunan simpang Joglo. Itu yang kami hitung selain proyek lainnya di sisi konstruksi.

IMG 20230215 WA0034

Sedangkan di sektor perdagangan,, transportasi dan lainnya, dihitung perkembangannya.Indikator lainnya, ditunjukkan dengan angka traffic ke Solo yang semakin meningkat pada 2022.

Kemudian, traffic keluar masuk tol di Solo dan sekitarnya secara tahunan tumbuh 27 persen. Sepanjang 2022, sebanyak 822.866 kendaraan masuk ke Kota Solo. Sebelumnya, di 2021, hanya sebanyak 645.125 kendaraan. Artinya, banyak orang datang ke Solo untuk beraktivitas ekonomi.

Hal tersebut tentu saja berimbas pada tingkat hunian hotel yang meningkat di 2022. Dari 36,2 persen di 2021 menjadi 61,9 persen di 2022. Atau naik dua kali lipat dibandingkan 2021.

Untuk sektor transportasi, selama pandemi mengalami kontraksi dan tahun 2020 angkanya negatif. “Tetapi mulai tumbuh di 2021 meskipun kecil dan di 2022 menjadi penyumbang pertumbuhan yang tinggi,” kata Joko.

Nah, dari perhitungan itu, Joko memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di Kota Solo sepanjang 2022, antara 5,8 hingga 6,2 persen. Proyeksi tersebut melebihi pertumbuhan ekonomi nasional yakni 5,3 persen.

Menurut Joko, angka tersebut membuktikan pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. “Untuk angka resminya nanti yang mengeluarkan Badan Pusat Statistik atau BPS,” pungkasnya.(*)

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber :

Artikel Terkait