Pater Damaso

27 Februari 2024, 10:20 WIB

Puncta 27.02.24

INSTITUSI Gereja yang dipersonifikasi dalam diri Pater Damaso adalah sasaran kritik Jose Rizal dalam Novel berjudul ”Noli Me Tangere.”

Gereja sangat berkuasa melebihi pemerintah kolonial pada masa pendudukan Spanyol di Filipina pada abad 19.

Pater Damaso mengutuk Don Rafael, ayah Ibarra gara-gara tidak pernah mengikuti sakramen pengakuan dosa di gereja.

Dengan kuasanya yang tak terbatas, Pater Damaso bisa menghukum dan membawa orang ke dalam neraka.

Demikian besarnya kekuasaan gereja sehingga pemerintah-walikota, polisi dan sekolah-takluk di bawahnya. Begitu pula seluruh rakyat, karena mereka percaya bahwa menentang atau meragukan para imam akan dikafirkan dan dikutuk ke neraka jahanam.

Pater Damaso menghalangi Ibarra mendirikan sekolah. Anak-anak hanya boleh sekolah dalam asuhan Gereja. Mereka hanya mendapat pendidikan agama-menghafalkan doa-doa dalam bahasa Latin yang tidak mereka mengerti, dilarang mempelajari bahasa Spanyol atau pelajaran lainnya.

Pada zaman-Nya, Yesus juga menghadapi orang-orang seperti Pater Damaso yang tergambar dalam perilaku kaum Farisi dan para ahli Taurat. Mereka pandai mengajarkan tetapi tidak mau melakukannya.

“Mereka mengingat-ingat beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang,” itulah kritik Yesus.

Yesus mengajarkan kepada pera murid-Nya agar memiliki integritas. Integritas terwujud dari sesuainya antara kata dan tindakan. Apa yang diajarkan harus terbukti dalam tindakan nyata.

Kedua, Yesus mengajak para murid-Nya untuk bersikap rendah hati. “Siapa pun yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

Ketiga, Yesus mengajak para murid-Nya untuk tidak pamer kesombongan, minta dihormati seperti para ahli Taurat. Mereka suka pakai baju agamis, suka duduk di tempat kehormatan, suka disanjung-sanjung di pasar dan suka disebut Rabi.

Mari kita terus memperbaiki diri, agar apa yang diajarkan, juga dilakukan dalam hidup sehari-hari.

Sore-sore bermain di Pantai Pangandaran,
Badan basah kuyub karena kehujanan.
Yang merendahkan diri akan ditinggikan,
Yang meninggikan diri akan direndahkan
.

Cawas, janganlah meninggikan diri…
Alexander Joko Purwanto Pr

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber : sesawi.net

Artikel Terkait