Pidato Natal Bung Karno

25 Desember 2022, 15:51 WIB

SUATU malam Natal pada 1963 di podium gereja di Jakarta, Bung Karno diminta untuk memberi kata sambutan. Begini awal narasi pidato Bung Karno :

“Spanduk di depan saya tertulis : ‘Yesus adalah gembala yang baik.’ Itu salah… Itu keliru….!”

Suasana jemaat gereja mendadak hening. Tak ada seorang pun yang berani bersuara. Tema Natal tersebut merupakan kutipan ayat Yohanes 10 :14 dari Alkitab.

Setelah beberapa detik sunyi, Bung Karno melanjutkan pidatonya.

“Yang benar mustinya begini, ‘Sesungguhnya Yesus adalah Gembala yang Terbaik..!” kata Bung Karno disambut riuh tepuk tangan dan nada gembira para jemaat.

Lalu hiruk pikuk dan tepuk tangan menggelegar di seluruh ruangan. Setelah gemuruh hiruk pikuk mereda, Bung Karno melanjutkan pidatonya “Kita semua yang hadir di sini ditantang…SUDAHKAH KALIAN MENJADI DOMBA-DOMBA TERBAIK-NYA? Hanya sedemikian penggalan pidato itu.

Nah, cerita “Pidato Natal Bung Karno” tahun 1963 di podium gereja di Jakarta, disertai gambar/poto tersebut beredar luas lewat pesan di Whats App dengan ditambahi :

Kepada saudara²ku kawan²ku yang merayakan, sy ucapkan selamat Natal 2022 dan selamat menyongsong Tahun Baru 2023, damai bersinergi damai hati kita semua, damai Indonesia, dan Terberkati Tuhan.

Ya, ungkapan Gembala Yang Baik itu sebenarnya sudah “baku”, tetapi Bung Karno, sebagai Presiden kala itu, mengingatkan warga negaranya yang merayakan Natal, bahwa Yesus bukan sembarang gembala yang baik seperti manusia biasa, melainkan menurut Bung Karno, Yesus itu adalah Gembala Yang Terbaik, melebihi manusia.

Bung Karno sekaligus menantang, apakah hadirin sudah menjadi domba-dombaNya yang terbaik? Artinya perayaan Natal itu tidak hanya seremonial dan “pemenuhan kalender tahunan” belaka.Harus ada peningkatan iman dan tidak sebaliknya

Pidato Bung Karno itu juga mengingatkan agar para Pengikut Yesus itu bertobat di Natal dan setelah Natal, tidak lantas setelah Natal kembali lagi ke kehidupan “duniawi”

Dan seandainya Bung Karno masih hidup, barangkali beliau akan mengatakan, “Jangan Menyalibkan Yesus Setiap Tahun”, mengingat perilaku dan sepak terjang kita yang sudah sering sulit membedakan yang baik dengan yang tidak saat ini. Maksudnya jangan seperti ungkapan belakangan ini yang sempat ramai, “Senin-Jumat.. manusia, Minggu ..Tuhan”. 

Bukan itu yang diingatkan dan dikehendaki Bung Karno, melainkan, setiap domba-domba yang digembalakan oleh Gembala Yang Terbaik itu haruslah mendedikasikan dirinya sebagai domba-domba terbaik juga sejak mata hari terbit sampai terbenamnya, sepanjang hayat  dikandung badan.

Pemahaman yang mendalam terhadap hakekat gembala yang baik dan yang terbaik dari Bung Karno sungguh menjadi tantangan bagi siapa saja tentang penghayatan terhadap arti dan makna Natal, tidak seperti anak kecil terutama di kampung-kampung, bahwa datangnya Natal berarti datangnya baju dan sepatu baru. Sebaliknya bagi orang tua bahwa datangnya Natal berarti akan menambah pengeluaran.

Memang secara manusiawi adalah demikian kenyataannya, tetapi secara rohani, Bung Karno mengingatkan dan menantang agar mereka pengikut-pengikut Gembala yang Terbaik itu harus juga menjadi domba-domba terbaik juga.

Dengan kata lain, bahwa ke-Kristen-an itu ada tanggung jawabnya, yaitu selalu membawa kedamaian ke mana dan di manapun. Tidak dibebankan hanya ara rohaniawan, tetapi semua yang merasa digembalakanNya secara konsisten dan konsekwen harus menjadi pelayan dan tidak sebaliknya minta dilayani.

Harus menjadi pembawa damai tidak  sebaliknya justru membawa silang sengketa, pemecah-belah serta mendahulukan kepentingan diri sendiri dan melewatkan kepentingan orang lain?

Tidak ada niat Bung Karno untuk meragukan iman para hadirin di perayaan Natal tahun 1963 tersebut, tetapi karena beliau sebagai Presiden mengingatkan rakyatnya untuk menjadi Kristen yang baik dan benar sesuai dengan  ajaran sang Gembala Yang Terbaik itu.(*)

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber : pelitabatak.com

Artikel Terkait