Sengkuni dan Durna

12 Oktober 2022, 07:11 WIB

Puncta 12.10.22
Rabu Biasa XXVIII
Lukas 11: 42-46

Sengkuni dan Durna, dua sosok penting ini adalah satu kesatuan dalam kehidupan para Kurawa. Sengkuni adalah mahapatih Hastina. Ia berkuasa melebihi rajanya.

Dialah sebenarnya yang mengatur roda pemerintahan. Duryudana hanyalah raja bonekanya. Segala hal diatur dari belakang oleh Sengkuni.

Dia dengan licik menyingkirkan Pandawa melalui permainan dadu. Ia ingin agar kursi kekuasaan tetap dipegang Kurawa.

Dengan segala macam cara diusahakan bahkan jika harus menggunakan cara-cara curang demi langgengnya kekuasaan.

Sedangkan Durna adalah pandita atau rohaniwan sekaligus guru mereka. Sebagai guru semestinya memberi teladan hidup baik. Tetapi Durna gagal memperbaiki peri hidup Kurawa.

Sebagai pandita atau rohaniwan, Durna mengajarkan kebaikan. Tetapi karena apa yang diajarkan tidak dilakukan, maka Kurawa malah menjadi orang yang “Adigang, adigung, adiguna.”

Kekuasaan Sengkuni dibalut dengan ajaran agama sang Pandita Durna menjadi sebuah power yang absolut tak terbantah.

“Sabda Pandita Ratu tan kena wola-wali” artinya sabda seorang raja atau rohaniwan sekali harus terlaksana. Tidak boleh tidak harus dilakukan.

Kekuasaan itu mudah sekali disalahgunakan hanya demi kepentingan dan kebenarannya sendiri.

Itulah yang terjadi di dalam pola kehidupan kaum Farisi dan Ahli Taurat. Yesus mengkritik kemunafikan kaum Farisi dan Ahli Taurat.

Kaum Farisi dikatakan, “Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.”

Sedangkan para ahli Taurat suka memberi beban tuntutan pada kaum lemah namun mereka sendiri tidak mau melakukannya.

Yesus berkata, “Celakalah kamu juga hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.”

Sikap gila hormat dan munafik itulah yang dikritik Yesus pada kaum Farisi dan para ahli Taurat.

Mereka itu banyak menilai orang sebagai tidak benar, tetapi mereka sendiri tidak pernah melakukan apa yang dianggap benar.

Bisa jadi kita ini adalah ahli-ahli Taurat dan para Farisi yang ditunjuk Yesus.

Mungkin saja perilaku kita juga seperti mereka. Suka pameran asesoris agama biar dinilai religius, agar dihormati dan disanjung dimana-mana.

Bisa jadi kita juga suka menimpakan beban berat kepada orang lain, tetapi kita sendiri tidak melakukan apa-apa.

Kita suka menyalahkan orang lain, tetapi kita sendiri tak mau memberi teladan yang baik.

Apakah kita ini juga termasuk Sengkuni-Sengkuni dan Durna-Durna zaman milenial?

Minum kopi pahit rasanya,
Dicampur dengan gula batu.
Lebih baik diam tanpa kata-kata,
Daripada omong hanya tipu-tipu.

Cawas, tak usah banyak kata…
RD A Joko Purwanto Pr

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber : sesawi.net

Artikel Terkait