Tahun Politik, Tren Inflasi Di Kota Solo Cenderung Turun, kok bisa? Ini Penjelasannya….

2 Februari 2024, 15:23 WIB

SOLO,LOKAWARTA.COM-Di tahun politik, disinyalir banyak peredaran uang dari para caleg maupun capres/cawapres, sehingga pertumbuhan ekonomi terjaga.

Di tahun politik, para caleg di tingkat kota/kabupaten, tingkat provinsi, hingga tingkat pusat melakukan kampanye yang tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Demikian pula capres/cawapres.

Baik untuk pasang spanduk, baliho, maupun reklame,pembuatan bendera, kaos,dan alat peraga kampanye.. Demikian pula untuk kampanye di media mainstream maupun media sosial yang juga membutuhkan dana.

Apalagi untuk mengumpulkan kader partai atau massa secara massal di tempat terbuka, tentu saja dana yang dikeluarkan pasti lebih banyak. Meski peredaran uang meningkat dan pertumbuhan emonomi terjaga, namun dii tahun angka inflasi justru menurun.

Meski peredaran uang sangat banyak namun di tahun politik, angka inflasi justru menurun. Sebut saja saat Pemilu 2009, angka inflsasi di Kota Solo tercatat 2,63 persen. Sedang tahun 2008 sebanyak 6,96 persen dan 6,65 persen di tahun 2010.

Di Pemilu 2014, angka inflasinya tercatat 8,01 persen sedang di 2013 dan 2015, masing-masing 8,82 persen dan 2,50 persen. Lima tahun kemudian di Pemilu 2019, angka inflasi 2,94 persen dan di 2018 sebesar 2,45 persen sedang di 2020 tercatat 1,38 persen.

“Di tahun polifik, dana untuk belanja memang meningkat, tapi kalau kebutuhannya bisa dipenuhi, angka inflasi tetap akan terkendali,” kata Kepala BPS Kota Surakarta Ratna Setyawati dalam rilis BPS terkait inflasi Kota Surakarta di kantor setempat, Kamis (1/2/2028).

“Di tahun 2023 angka inflasi mencapai 3,20 persen dan tahun ini, dimana dilaksanakan Pemilu 2024, angka inflasi nasional diproyeksikan 2,5 persen plus minus 1,” kata Rata.

Sementara itu dalam rilis tersebut, Ratna menyebutkan, pada Januari 2024 di Kota Solo terjadi deflasi 0,10 persen (.month to month), sedang di Bulan Desember 2023 terjadi inflasi 0,22 persen. Cabai rawit dan cabai merah memberi andil paling besar dalam deflasi itu, masing-masing 0,18 persen dan 0,08 persen.

Penyumbang deflasi lainnya, BBM, angkutan udara dan telur ayam ras masing-masing 0,4 persen, 0,3 persen, dan 0,2 persen. Adapun komoditas penyumbang inflasi di Bulan Januari antara lain rekreasi 0,09 persen, tukang bukan mandor 0,04 persen dan beras 0,02 persen.

“Masyarakat memang senang makanan pedas, tapi mereka tidak makan lombok, bisa saja makan sambel jadi sehingga harga capai turun,” kata Ratna memberi alasan.(*)

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber :

Artikel Terkait