Tedhak Sinten

2 Februari 2024, 08:49 WIB

Puncta 02.02.24

DALAM tradisi Jawa ada sebuah ritual atau adat yang dibuat untuk anak ketika dia mulai belajar berjalan. Acara itu disebut “Tedhak Siten”.

“Tedhak” berarti turun menapak atau menginjak. “Siten” dari kata siti artinya tanah. Tedhak siten berarti anak pertama kali menginjakkan kaki untuk berjalan, melangkah menuju ke masa depan.

Ada ubarampe atau sarana-sarana yang melambangkan harapan orangtua kepada anaknya. Misalnya; “jadah tujuh warna” yakni nasi ketan yang ditumbuk sampai lembut. Warnanya hitam, merah, putih, kuning, biru, jingga dan ungu.

Jadah lambang kehidupan. Warna adalah lambang jalan hidup yang harus dilalui si anak. Ia akan menghadapi kegelapan (hitam) namun selalu ada titik terang atau jalan yang baik (putih).

Tumpeng lambang pengharapan orangtua agar anak sukses dan berguna. Kacang panjang berharap agar umurnya panjang. Sayur kangkung lambang kesejahteraan. Kecambah lambang kesuburan.

Ayam ingkung adalah lambang kemandirian. Anak diharapakan bisa mencari makan sepertia yam yang rajin bangun pagi-pagi.

Kalau ada anak malas bangun, orangtua akan bilang, ”Ayo cepat bangun nanti rejekimu “dithothol” ayam.”

Yusuf dan Maria juga melakukan sebuah ritual adat tradisi yakni mempersembahkan anak sulungnya kepada Tuhan di Bait Suci.

Mereka membawa sarana seperti binatang persembahan. Keluarga miskin itu membawa sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Harapan atau jalan yang akan dilalui oleh Yesus terungkap dari mulut Simeon, orang saleh yang menantikan kepenuhan Israel.

Simeon berkata, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel, dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.”

Maria juga diramalkan akan mengalami penderitaan bersama Puteranya. “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Kehadiran Yesus membuat orang harus berani membuat keputusan. Mengikuti-Nya atau tidak. Percaya kepada-Nya atau tidak. Pengin selamat atau tidak. Hal itu akan menimbulkan orang jatuh dan bangkit.

Bagi Simeon yang saleh dan suci hatinya, Yesus adalah pemenuhan nubuat para nabi. Ia merasa lega dan tentram bisa berjumpa dengan Yang Dijanjikan Allah.

Ia telah mengalami keselamatan yang datang dari Tuhan. “Biarkanlah hambamu ini pergi dalam damai sejahtera,” doanya dengan pasrah.

Apakah kita juga mengalami seperti Simeon yang merasa damai karena sudah berjumpa dengan Sang Juru Selamat yakni Yesus Tuhan?

Apakah dengan beriman kepada Yesus kita juga mengalami ketentraman dan kedamaian hidup?

Sakit mata namanya rabun kornea.
Tidak melihat namanya buta warna.
Betapa damai dan bahagianya orang tua,
Melihat anak cucu rukun dan baik hidupnya.

Cawas, jadilah harapan orangtua.
Alexander Joko Purwanto Pr

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber : sesawi.net

Artikel Terkait