Tentang Pelacur…

18 Maret 2024, 08:46 WIB

Puncta 18.3.2024

DALAM sequel Film “Les Miserables” ada adegan dimana Inspektur Javert menangkap seorang pelacur yang bernama Fantine yang diperankan oleh Uma Thurman.

Javert sebagai polisi harus menghukum pelacur yang berkeliaran di jalan kota. Ia sebagai aparat hanya menjalankan hukum. Hukum harus ditegakkan tanpa kekecualian.

Jean Valjean seorang walikota di Vigou membebaskan pelacur itu. Fantine sempat meludahi sang walikota karena menganggap dialah yang membuatnya jatuh miskin dan terpaksa menjual diri.

Dengan kasihnya, Valjean menuntut bebas untuk perempuan jalang itu. Walau dia harus bersitegang dengan Inspektur Javert.

Valjean bertindak berdasarkan belas kasih dan pengampunan. Inpektur Javert bertindak berdasarkan hukum atau aturan tanpa pandang bulu.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berhadapan dengan orang-orang Yahudi yang mau menghukum wanita yang kedapatan berzinah.

Mereka mengikuti perintah Taurat bahwa perempuan yang berlaku demikian harus dihukum rajam. Dia harus dilempari batu sampai mati. Mereka bertindak seperti Inspektur Javert. Aturan adalah aturan.

Cara pandang Yesus berbeda dengan masyarakat umumnya. Ia melihat dengan mata hati Allah yang mengampuni. Kata-katanya tegas, jelas dan tidak menghakimi.

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Satu per satu mereka pergi meninggalkan perempuan itu. Tak ada satu pun dari mereka yang merajam sang wanita. Tidak ada adu mulut. Tidak ada perdebatan.

Semua pergi dengan kesadaran masing-masing bahwa mereka juga orang berdosa. Tidak ada orang yang sempurna, yang berhak menghukum seseorang. Bahkan Yesus yang adalah Tuhan juga tidak menghukumnya.

Yesus berkata, “Aku juga tidak menghukum engkau. Pergilah, jangan berbuat dosa lagi.”

Itulah wujud belaskasih Allah kepada kita pendosa. Pengampunan Tuhan melebihi seberapa pun besarnya dosa kita. Karena Allah adalah kasih, Ia hanya ingin manusia selamat dan bahagia.

Pada hari-hari akhir kehidupan Yesus di Yerusalem, Ia ingin menunjukkan Allah itu Mahakasih. Ada banyak peristiwa pengampunan dilakukan Yesus sampai di atas kayu salib-Nya.

Marilah kita syukuri hidup kita, karena Allah begitu mengasihi kita, sampai Anak-Nya yang tunggal diberikan kepada kita.

Pengampunan Allah adalah rahmat agung yang kita terima. Mari kita buat hidup kita sebagai pribadi yang pantas dicintai Allah sedemikian rupa.

Lirik lagu Mas Putut ini bisa mewakili kehinaan kita di hadapan belaskasih Tuhan:

“Siapakah aku di hadapan-Mu Tuhan. Kau curahkan cinta-Mu
Apakah artiku bagi-Mu Cinta-Mu setia selalu.”

Jalan Semarang Demak kebanjiran,
Harus putar balik ke Kaliwungu.
Tiada pantas aku Kaukasihi Tuhan,
Kasih-Mu melebihi kehinaan diriku.

Cawas, syukur atas Cinta-Mu
Alexander Joko Purwanto Pr

Editor : Vladimir Langgeng
Sumber :

Artikel Terkait